Ke Mana Akalmu

 


Oleh  Idat Mustari


NEWSLETTERJABAR.COM-- Saya tidak menghitung berapa kali Allah mengulang kalimat Afala Tatafakkarun (=apakah kamu tidak memikirkan); Afala Ta’qilun, (=apakah kamu tidak menggunakan akalmu); Afala Tubshirun (=apakah kamu tidak melihat?); Afala yandzurun (=apakah kamu tidak memperhatikan), Afala tadrusun (=apakah kamu tidak belajar).


Kalimat pertanyan ini adalah kritisme Allah pada manusia yang sepertinya malas menggunakan akalnya, pikirannya, dan kemampuan menganalisa, mengamati, memperhatikan, menghitung sebagai potensi manusia yang tak dimiliki oleh mahluk manapun.


Bebagai kisah yang tedapat dalam Al-Quran bukanlah kisah fiksi, tapi rangkaian peristiwa yang benar-bena tejadi untuk manusia belajar dari kisah-kisah itu.


Kisah kaum Tsamud yang musyrik; kaum Luth yang amoral; Fir’aun sang penguasa yang sombong; atau Qarun  yang kaya-raya tapi tak tahu diri  dan kisah lainnya bukan untuk sekedar dibaca seperti membaca novel, tapi dari kisah mereka manusia harus mampu mengambil butiran-butian hikmah sebagai bekal hidup dirinya, dan masyarakatnya.


Bahkan, manusia yang berakal diharuskan pula belajar dari peristiwa yang dilihat, didengar olehnya termasuk  peristiwa yang dialami oleh dirinya sendiri: Wa fi Anfusikum, Afala Tubshirun (=di dalam dirimu apakah kamu tidak melihat?)


Manusia harus bisa belajar dari kesalahan yang telah dilakukannya. Akan tetapi tak sedikit orang tak menggunakan akalnya, pikirannya hingga harus berulang kali melakukan kesalahan yang sama, meskipun dalam bingkai cerita berbeda.


Bismillah, mari kita memaksimalkan potensi ini, yang rasional bukan emosional, yang merenung bukan hanya menghapal, yang memaknai bukan sekedar membaca. Tentu saja kepada Allah kita memohon pertolongan-Nya agar kita bisa memaksimalkan potensi ini.


Jangan karena kita malas berpikir hingga tak hati-hati, malas memperhatikan hingga berulang kali jatuh ke jurang, hingga  Allah pun bertanya kepada kita: Ke mana akalmu? (*)