'Demokrasi Digital' dan Bijaksana Mengendalikan Diri

 


Oleh Soviyan Munawar


NEWSLETTERJABAR.COM-- Kita terkadang sadar atau tidak telah mengalami era dimana digitalisasi sebuah era dimana jari jemari menjadi kuat perannya, basis  data nya dari 0 1 atau 1 0 bilangan biner (on off), semuanya diperkuat oleh kekuatan Technology dan sains, yg kompleks namun dirancang agar fleksibel. Telah terjadi Perubahan manual menjadi serba otomatisasi, maka terjadi fungsi reduksi dan fungsi implikasi.


Disisi lain masyarakat terpolarisasi, ada yg sangat menganggungkan dan cepat adaptasi pada teknologi digital terutama flatform media sosial sebagai alat untuk berinteraksi dan meningkatkan kapasitas, produktivitas nya namun ada yg tetap melakukan off line yg senang berinteraksi langsung, dan tetap meningkatkan produktivitas kerjanya.


Demokrasi sebagai wujud suara rakyat dari, oleh dan untuk rakyat tidak terkecuali terpengaruh oleh digitalisasi, dimana demokrasi Digital adalah dapat dipahami sebagai demokrasi yg tidak Terkungkung oleh limitasi ruang, waktu dan batasan fisik.


Demokrasi digital menggabungkan konsep demokrasi perwakilan & demokrasi partisipasi dengan didunia nyata (offline) dengan dunia Maya (on-line), interaksi saling mempengaruhi dan menjadi relasi esensial yang dalam perkembangan demokrasi kita saat ini, baik di tataran negara, partai politik dan elit, media mainstream dan masyarakat pada umumnya.


Sifatnya saling mempengaruhi dan tarik menarik, Adanya proses tarik ulur kepentingan dan proses politik itulah yang kemudian menciptakan ”nilai pertama” demokrasi digital, yakni demokrasi seduktif.


Istilah tersebut untuk menjelaskan bahwa demokrasi kini lebih sifatnya merayu, memengaruhi, sekaligus mensugesti
daripada nilai demokrasi sebelumnya yang bersifat asosiatif, yakni mengajak,
berkumpul, dan mengelompok.


Pembentukan, kepemilikan, dan redistribusi informasi secara instan, cepat, dan tepat menjadi kunci penting dalam menciptakan preferensi politik publik melalui beragam informasi, entah berita itu benar atau bohong dengan kata lain, implementasi demokrasi hari ini lebih kepada membentuk jaringan relasi personal privat di dunia maya untuk berkembang menjadi relasi komunal publik di dunia nyata.


Dengan Adanya sentuhan teknologi telah mengakselerasi demokrasi agar lebih dekat,
nyata, dan berkontribusi penting dalam menciptakan demokrasi secara kritis.
Para netizen yang mayoritas diisi oleh kelas menengah itulah yang tampil sebagai demos dalam situasi kekinian melalui aktivitas klik, posting, dan sharing di akun media sosial masing-masing.


Hal itulah yang menciptakan ”nilai kedua” demokrasi digital, yakni demokrasi konektif, yaitu demokrasi yang sifatnya berjejaring daripada nilai demokrasi sebelumnya lebih bersifat kolektif, yakni lebih bersifat organik.


Masyarakat kelas menengah Indonesia sekarang ini pada umumnya lebih melihat
politik dalam perspektif informal, komunal, multilateral, dan populis.


Perkembangan politik ke depan akan terus dipengaruhi oleh tuntutan transfaransi dan aksesibilitas oleh publik yg memiliki kekuatan dengan informasi dan mempengaruhi pola interaksi yg elitis dengan rakyat nya.


Demokrasi digital dapat menciptakan adanya imajinasi-imajinasi politik dan demokrasi "ideal" menurut warga negara/nitizen yang dirumuskan melalui ruang-ruang siber (cyberspace) sebagai ruang publik baru.

 

Melekatnya fungsi media sosial dengan publik kelas menengah terhadap isu politik dikarenakan internet menciptakn adanya sensasi meruang (sense of space), sensasi menyata (sense of real) ataupun juga sensasi kebersamaan (sense of belong). 


Semoga kita lebih bijaksana, cermat dan mampu mengendalikan diri dengan perubahan budaya digital terhadap arah perkembangan demokrasi kita. Tidak melupakan cita cita luhur Bangsa Indonesia. (*)